Minggu, 14 Desember 2014

Paradigma Integrasi dan Interkoneksi Dalam PerspektifFilsafat Islam

Ketika penulis mendapatkan tugas sebagai Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2002, konsep integrasi dan interkoneksi menjadi wacana yang aktual bagi kalangan akademisi di IAIN Sunan Kalijaga. Sebagai direktur ketika itu, maka penulis meresponnya dengan mengubah/menambah kurikulum yang ada, dengan menambah tiga mata kuliah yang dipandang sangat penting waktu itu, yaitu 1) metodologi penelitian filsafat, agama dan sosial, 2) agama, filsafat dan sains, dan 3) isu-isu global. Mata kuliah tersebut diajarkan dengan pendekatan intregratif dan interkonektif.
Ketiga mata kuliah ini menjadi bagian utama untuk melakukan integrasi dan interkoneksi yang dimulai dengan menata metodologinya terlebih dahulu, dengan menyatukan mata kuliah metodologi penelitian filsafat, agama dan sosial, yang diajarkan oleh masing-masing ahli di bidangnya, dengan harapan integrasi dan interkoneksi itu bisa dikembangkan dengan landasan metodologi yang mantap. Pada hakikatnya konsep integrasi dan interkoneksi harus dimulai dari integrasi dan interkoneksi metodologinya. Tanpa dasar metodologi yang kuat, maka integrasi dan interkoneksi hanya akan menjadi hal mengawang-awang, tidak jelas dan tidak pernah bisa membumi.
Kemudian mata kuliah agama, budaya dan sains diajarkan dengan tujuan untuk melihat sesuatu masalah dari pendekatan lintas agama, budaya dan sains, sehingga integrasi dan interkoneksi dengan sendirinya akan terbentuk dan terbawa dalam melihat setiap masalah kehidupan dan kemanusiaan. Matakuliah ini sangat penting, karena mata kuliah ini diharapkan dapat mengembangkan paradigma integrasi dan interkoneksi melalui pembentukan tradisi akademik yang berdimensi lintas agama, lintas budaya dan lintas sains, dan ini menjadi tuntutan menjawab problematika kontemporer yang tidak bisa didekati hanya dengan pendekatan tunggal keilmuan. Masalah kemiskinan, kesejahteraan dan perdamian tidak bisa dipecahkan dengan pendekatan tunggal, baik ekonomi semata-mata, demikian juga pendekatan tunggal sosial, politik, budaya mau pun agama.
Selanjutnya mata kuliah isu-isu global ditambahkan sebagai aktualisasi paradigma integrasi dan interkoneksi secara praksis untuk memahami, mendalami dan menganalisis problematika global sebagai fenomena aktual masa kini yang sudah merupakan fenomena global, yang mau tidak mau, pendekatan integrasi dan interkoneksi itu mutlak dipergunakan. Tanpa integrasi dan interkoneksi keilmuan, kita tidak mungkin dapat memahami dan memecahkan masalah-masalah global. Penulis sendiri waktu itu mengajar aspek budaya dalam sains dan agama, bersama dengan Prof Amin Abdulah aspek agama dan Prof Choiril Anwar dari Universitas Gadjah Mada aspek sains, dan penulis pada aspek kebudayaan.
FILSAFAT ISLAM SEBAGAI METODA
Menurut pandangan penulis, filsafat Islam mempunyai potensi aktual untuk mengintegrasikan dan menginterkoneksikan studi-studi keislaman secara praksis. Tanpa dasar filsafat Islam, rasanya sulit untuk dapat mengintegrasikan dan menginterkoneksikan ilmu-ilmu keislaman. Dalam tahap ini, filsafat Islam harus diletakkan sebagai metodologi berpikir, bukan diletakkan pada kajian tokoh-tokohnya dan pemikirannya saja, atau hanya fokus pada tema-tema filsafat saja serta periodisasinya.
Pada hakikatnya setiap studi keislaman, selalu mempunyai dasar filsafatnya sendiri-sendiri. Dalam sejarah perkembangan ilmu, filsafat adalah induk dari setiap ilmu pengetahuan. Karena itu setiap cabang ilmu sesungguhnya mempunyai landasan filsafatnya sendiri sendiri. Ilmu hukum dengan filsafat hukumnya, demikian juga filsafat eknonomi untuk ilmu ekonomi, fisafat politik untuk ilmu politik, juga arsitektur dengan filsafat arsitekturnya dan seterusnya.
Filsafat Islam sebagai metoda, akan mengintegrasikan dan menginterkoneksikan studi-studi keislaman dalam suatu world view yang multidimensional. Dalam buku “Filsafat Islam Sunah Nabi Dalam Berpikir” penulis menyusun cara berpikir Islam yang dikonstruk dari tradisi berpikir Nabi sendiri dalam menjawab berbagai kasus. Dalam sejarah kenabian, terlihat bahwa para nabi dalam menjawab suatu masalah,tidak selamanya bergantung pada wahyu. Demikina juga yang dialami nabi Muhammad Saw., terutama dalam tradisi berpikir beliau sebelum usia empat puluh tahun, atau sebelum beliau menerima wahyu, sedangkan setelah usia empat puluh tahun itu berada dalam konstruksi dialektik antara aqal dan wahyu. Alquran 62:2 dijelaskan yang artinya sebagai berikut : “Dia (Allah) yang mengutus di antara orang-orang ummi, seorang Rasul dari kalangan mereka, yang menjelaskan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya adalah dalam kesesatan yang nyata”.
Dalam pandangan penulis seorang Rasul itu mengajarkan Kitab yaitu turunnya wahyu yang diterima dari Tuhannya yang terjadi secara bertahap sesuai dengan tahapan kehidupan. Sedangkan hikmah, bisa diartikan sebagai penjelasan dan penjabaran yang bisa dimengerti umatnya tentang hakikat kebenaran wahyu yang diterimanya. Dalam kenabian Muhammad Saw., ada yang menyebut hikmah sebagai al hadits. Hikmah juga bisa diartikan sebagai pengetahuan yang mendalam, suatu kearifan yang terdapat di balik realitas, kejadian dan peristiwa. Dalam ungkapan sehari-hari, ketika seseorang dalam kehidupannya menghadapi suatu kejadian, peristiwa, musibah atau ujian, seringkali dikatakan untuk bisa mengambil hikmahnya.
Karena itu, hikmah bisa diartikan sebagai pengetahuan yang mendalam, suatu kearifan yang diperoleh dari balik pemahaman terhadap realitas, suatu wisdom yang lahir dari pemikiran seseorang yang mendalam dalam perjalanan hidupnya. Dengan kata lain, maka hikmah sesungguhnya dapat diartikan sebagai pengetahuan filsafat, yaitu pencapaian atas kebenaran melalui pemikiran radikal terhadap realitas. Dalam konteks kerasulan yang tugasnya mengajarkan kitab dan hikmah, maka pengajaran tentang hikmah ini bisa dipahami sebagai filsafat, karena seorang rasul dalam sejarahnya juga pengajar tentang hakikat kehidupan dan makna hidup bagi manusia, yang sebenarnya menjadi inti dari flsafat.
Alquran 2:269 dijelaskan yang artinya “ Allah anugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya dan barang siapa yang medapatkannya, ia benar-benar telah dianugerahi suatu kebaikan yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah (ulul albab) yang dapat mengerti”. Dalam konteks ini, maka seorang nabi adalah juga seorang yang mendapat pengetahuan hikmah, yang menjadi inti dari filsafat. Seorang nabi juga bisa disebut seorang filosuf sebagai pengajar himah atau filsafat yaitu pengajar hakikat kebenaran segala sesuatu dalam hidup dan menjalaninya.
Untuk mampu mengajarkan kitab yang dikembangkan dalamsuatu hikmah, maka seorang nabi pastinya mempunyai suatu model berpikir tertentu yang memungkinkannya menembus realitas dan menemukan hakikat kebenaran di balik realitas atau kejadian. Model berpikir tersebut dipakai untuk memahami dan mendalami kebenaran melalui integrasi “aql” dan “qalb”.
Dalam Alquran 22: 46 menjelaskan yang artinya “maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati mereka dapat memahami, telinga dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.
Selanjutnya dalam Alquran 33 : 21 dijelaskan yang artinya “sungguh pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan pada hari kemudian, serta mereka banyak mengingat Allah. Keteladanan nabi yang utama bagi penulis bukanlah pada perbuatannya, seperti cara makan dan memelihara jenggot saja, tetapi keteladanan beliau pada pemikirannya, karena perbuatan adalah tindak lanjut dari pemikiran, pemikiran adalah ibu kandung perbuatan. Bahkan dalam prinsip etika, perbuatan yang tidak disertai pemikiran adalah pemikiran yang tidak disadari, maka perbuatan itu tidak termasuk ranah etika, seperti perbuatan orang yang kehilangan akal sehatnya atau perbuatan orang gila.
Paradigma integratif dan interkonektif sesungguhnya dapat dimungkinkan dengan integrasinya “aql” dan “qalb” sebagai suatu metoda berpikir untuk memahami realitas. Pendekatan integratif adalah pendekatan ulul’albab yang secara jelas digambarkan Alquran 3: 190-191 yang artinya sebagai berikut : “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi ulul albab, yaitu mereka yang mengingat (zikir/qalb) tentang Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan memikirkan (aql, rasio) tentang penciptaan langit dan bumi ; ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia ; Mahasuci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksaan neraka.
Penjelasan Alquran di atas bisa dimengerti akan adanya proses rasional transcendental di mana 1) mengingat (zikir pada kekuasaan Allah) mendahului 2) berpikir untuk memahami dan mendalami semua ciptaanNya di langit dan di bumi,3) dan mencapai proses transendensi dengan 4) kesadaran tidak akan menyia-nyiakan semua ciptaanNya dan aktualitas perbuatan yang terhindar dari siksaan neraka. Ini menjadi metoda berpikir integratif dan interkonektif yang berada dalam jalan hidup seseorang untuk selalu mensyukuri dan menghindari siksaan neraka.
Karena itu, bagi penulis makna surat al fatihah yang dibaca setiap kali oleh seorang muslim ketika menjalankan solat, terutama saat membaca Alquran 1: 6-7 yang dijelaskan artinya : “tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang tersesat. Maka jalan lurus itu dapat dimengerti sebagai metoda berpikir yang secara konsisten dan lurus, kemudian diaktualisasikan dalam perbuatan yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama, akan menjadi nikmat, bukan laknat apalagi tersesat.
Filsafat Islam sebagai metoda berpikir menjadi dasar bagi peradigma integrative interkonektif, yang secara sistemik menyatukan antara aql, qalb, wahyu dan realitas menjadi suatu metodologi berpikir yang bersifat rasional transcendental, dan selalu berdimensi majemuk. Karena itu, filsafat Islam sebagai metode berpikir seperti yang dijelaskan di atas, akan menjadi dasar dalam merumuskan filsafat dalam studi-studi keislaman. Dalam kaitan ini, maka seharusnya dalam setiap fakultas diajarkan filsafat Islam sesuai dengan bidang kajiannya masing masing, seperti filsafat hukum Islam di fakultas syari’ah, filsafat pendidikan Islam di fakultas tarbiyah, filsafat dakwah Islam di fakultas dakwah, filsafat eknonomi Islam di fakultas ekonomi dan bisnis dan seterusnya.
INTEGRASI DAN INTERKONEKSI SEBAGAI METODOLOGI DALAM STUDI KEISLAMAN
Dalam sebuah forum dialog di TVRI Yogyakarta, penulis selaku rektor UIN Sunan Kalijaga ditanya oleh seorang pemirsa, bahwa berubahnya IAIN menjadi UIN adalah suatu pendangkalan ilmu agama. Pertanyaan mereka itu didasarkan pada fenomena bahwa penguasaan ilmu agama pada alumni UIN lebih rendah daripada alumni IAIN dulu. Pertanyaan itu juga pernah menjadi perdebatan yang panjang di kalangan akademisi IAIN ketika kita akan berubah menjadi UIN.
Di samping itu, pandangan bahwa ilmu keislaman adalah ilmu agama masih tetap kuat di kalangan masyarakat Islam sendiri, sehingga ilmu keislaman bagi mereka adalah ilmu-ilmu agama seperti yang ada di IAIN dulu, yaitu ushuluddin, dakwah, syariah, adab dan terbiyah. Sedangkan ilmu-ilmu di luar studi agama adalah bukan ilmu keislaman. Dengan kata lain, mereka sebenarnya masih berpandangan bahwa Islam adalah agama, bukan kebudayaan, sehinga sains dan teknologi sebagai bagian dari kebudayaan, tidaklah termasuk kajian keislaman.
Karena itu, paradigm integratif dan interkonektif menjadi sangat penting dan fundamental dalam merumuskan kajian-kajian keislaman, di mana posisi Islam sebagai nilai-nilai yang mendasar dan mengikat setiap kajian keislaman yang ada dalam berbagai aspek kebudayaan, baik kebudayaan sebagai sistem nilai, produk maupun eksistensi manusia dalam perjalanan hidupnya yang kompleks.
Dalam pandangan penulis, yang paling sulit dilakukan dalam usaha melakukan integrasi dan interkoneksi studi-studi keislaman adalah bagaimana merumuskan metodologinya. Upaya integrasi dan interkoneksi yang banyak dilakukan sekarang ini adalah mengintegrasikan dan menginterkoneksikan materi kajian dari studi studi keislaman dalam kajian ilmu-ilmu umum atau sebaliknya, seperti mengintegrasikan materi kajian kajian Islam, terutama Alquran dan Alhadits diintegrasikan dan diinterkoneksikan dengan bidang kajian-kajian ilmu-ilmu umum.
Konsep pohon ilmu ilmu keislaman (Prof Imam Suprayogo) serta konsep jaring labah-labah ilmu ilmu keislaman ( Prof Amin Abdullah) menurut pandangan penulis yang sempit ini, rasanya belum sampai merumuskan pada metodologinya. Integrasi dan interkoneksi model ini, seringkali diimplementasikan dengan melakukan integrasi infrastruktur fisik dan non fisik, termasuk material dan bahan ajar dalam pengembangan keilmuan dalam suatu konsep universitas.
Dalam pandangan Islam, sebenarnya tidak mengenal dualisme pendidikan dan dikhotomi keilmuan. Pendidikan harus dilakukan secara integratif, sehingga keragaman ilmu bisa saling menyapa dan menyatu dalam memecahkan persoalan kemanusiaan yang makin kompleks. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa masalah masalah kemanusiaan, seperti kesejahteraan, kemiskinan, kebahagiaan, keamanan dan perdamaian, tidaklah bisa dipecahkan dengan pendekatan tunggal keilmuan semata mata. Karena itu, pendekatan integratif dan interkonektif adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan yang semakin global ini.
Jika kita akan menempatkan integrasi dan interkoneksi sebagai suatu metodologi, maka dalam setiap jenjang pendidikan di UIN Suka baik S1, S2 maupun S3nya, bagaimana jabaran dalam kurikulumnya. Demikian juga halnya dalam berbagai fakultas yang ada, bagaimana integrasi dan interkoneksi sebagai metodologi dapat diimplementasi-kan dalam berbagai fakultas, sehingga sehingga masing-masing keilmuan yang dikembangkan oleh setiap fakultas berada dalam ikatan metodologi yang sama, yaitu integrasi dan interkoneksi.
Semoga bermanfaat wallahu a’lamu bishshowab.
(Disampaikan dalam rangka Seminar “Praksis Paradigma Integrasi Interkoneksi Ilmu dan Transformasi Islamic Studies”, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Convention Hall, 22-23 Oktober 2014)
sumber: http://uin-suka.ac.id/

Rabu, 10 Desember 2014

LED ZEPPELIN III : WAWANCARA JIMMY PAGE


Jimmy Page, lahir di Middlesex, Inggris pada tahun 1944. Pemusik yang dikenal sebagai arsitek musik Led Zeppelin ini, memulai karirnya sebagai session guitaris pada awal tahun 60 an. Di samping itu ia juga dikenal sebagai produser rekaman, antara lain untuk rekaman John Mayall. Ia mulai bergabung dengan The Yardbirds pada tahun 1966, untuk kemudian mendirikan Led Zeppelin pada tahun 1968, bersama Robert Plant, John Paul Jones dan John Bonham. Lewat album pertama Led Zeppelin, yang berjudul Led Zeppelin, Page tidak hanya menunjukan kepiawaiannya bermain musik tapi juga kepiawaiannya sebagai produser rekaman, hingga lewat album Led Zeppelin ia memunculkan dirinya sebagai salah seorang produser generasi pertama untuk rekaman stereo.

Tahun 1975, bersamaan dengan dikibarkannya perushaan rekaman milik Led Zeppelin Swan Song, Jimmy Page terjerumus pada penggunaan obat bius. Ketika Led Zeppelin bubar di tahun 1980, Jimmy Page hilang dari kancah musik untuk sekitar dua tahun. Ia muncul kembali tahun 1982, dengan rekaman musik sound track film yang dibintangi oleh Charles Bronson, Death Wish I dan Death Wish II. Selain itu ia juga mengkompilasi rekaman Led Zeppelin, yang belum pernah dirilis dengan judul Coda. Ia juga sempat membentuk grup The Firm bersama Paul Rodgers ex Free, menghasilkan dua album. Kemudian sempat juga membantu album solo Robert Plant Now & Zen dan merilis album solo pertamanya Outrider. Tahun 1993 Jimmy Page merekrut David Coverdale, melahirkan album Coverdale/Page dan beberapa rangkaian pertunjukan di Jepang. Pada tahun 1994, tanpa mengajak John Paul Jones Jimmy Page bekerjasama dengan Robert Plant merilis rekaman akustik No Quarter dan pertunjukan di MTV Unplugged. Dan pada tahun 1998 Page dan Plant merilis album dengan karya-karya baru liwat album Walking in Clarksdale, yang gagal di pasar. Kiprah Page di tahun 2000, ditandai dengan bergabungnya dirinya dengan konser Black Crows untuk tur dan live album Black Crows live in Greek. Selain berbagai aktifitas itu, setelah bubarnya Led Zeppelin Page juga aktif memproduseri project-project Led Zeppelin baik itu, DVD, CD dan LP.

Jimmy Page adalah orang terakhir yang ditemui oleh UNCUT untuk di wawancarai. Wawancara berlangsung tanggal 10 Maret 2008 di Hotel Gore, Kenningston ditengah badai terburuk sepanjang sejarah Inggris dalam 25 tahun terakhir. Terlihat sehat dan rupawan pada usianya yang ke 64, setelah sedikit berbasa basi untuk perkenalan wawancara dimulai..

Jimmy Page (foto: Rolling Stone.com)

Kenangan dan perasaan seperti apa yang tertinggal pada diri anda atas event 10 Desember tahun kemarin ?

Pertama-tama, saya pikir apa yang menjadi maksud kami telah kesampaian. Jika melihat respon publik, mereka banyak yang tergugah.Pertunjukan ini betul-betul berbeda dengan saat kami latihan. Namun memang inilah yang kami ingin lakukan, permainan berkembang dengan tidak keluar dari kerangka lagunya. Singkatnya, misi yang kami emban telah kami selesaikan.

Adakah saat-saat ketika sedang berlatihketika anda berpikir “Kita harus main bagus,Kita tak harus memainkan lagu ini……

Yeah, pada saat latihan pertama. Perhatikan situasi psikologis pada saat itu. Jika ada empat anggota band berada dalam satu ruang untuk berlatih bersama, tentu tak ada seorangpun yang mau untuk menjadi penyebab kegagalan latihan yang sedang dilakukan. Semua datang dengan suatu tekad, saya yakin bisa membuat berhasil. Dan sungguh sangat menyenangkan bisa bermain musik dengan kesungguhan seperti itu.

Anda naik ke atas panggung dengan mengenakan kacamata hitam, apa yang bisa Anda lihat di wajah orang-orang yang menonton di barisan depan ?

Saya tidak memperhatikan penonton. Saya merasa tenggelam pada tiga lagu pertama yang disajikan secara medley, non-stop, dan ketika saya membuka kacamata saya, saya juga tidak bisa melihat penonton. Saya sudah hanyut pada musik yang saya mainkan, kami mencurahkan diri kami pada konser ini, kami berkomitmen secara total dan tak ada sesuatupun yang bisa menganggunya- bahkan tidak juga jari saya yang terluka—lupakan itu. Tak ada sesuatupun yang bisa membatalkannya.

Apa musik (lagu) yang paling berkesan yang anda mainkan saat itu ?

Dari mulai feedback yang saya keluarkan, semuanya terbangun hingga lagu “Kashmir” . Semua orang yang hadir, apakah itu penonton biasa atau musisi, menganggap Kashmir luar biasa.

Bagaimana suasana dibelakang panggung, sehabis pertunjukan? Apakah semuanya terasa emosional ?

Memang. Anak-anak saya ada di sana. Saya ingin bertemu mereka sebelum pertunjukan dimulai dan kemudian setelahnya, sejauh yang saya tahu it was going to be intense spectacle for them. Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di ruang bawah dengan keluarga saya, dengan keluarga John Paul Jones, dengan keluarga Robert dengan keluarga Jason. Emosional. Begitu juga di panggung, sangat emosional, namun dalam pengertian positif . Intense. Sangat nikmat rasanya bermain dalam suasana seperti itu.

Hampir semua ulasan media memuji permainan anda, dan John Paul Jones berkata bahwa ini adalah permainan terbaik anda……..

Itu pendapatnya. Saya harus katakan ada beberapa momen. Yaitu, ketika kita harus bertindak spontan pada malam itu. Kita selalu ingin tahu apakah kita masih bisa melakukannya. Saya tahu saya bisa. Orang-orang berpikir bahwa saya sudah tidak bermain musik belakangan ini, padahal tidak, saya selalu bermain musik sepanjang waktu.

Musik Led Zeppelin ditulis ketika anda berusia 20 -30 tahunan. Adakah hal-hal didalam musik tersebut yang sulit untuk dimainkan ketika anda sekarang berusia 60 an ?

Tidak. Saya tidak akan bicara begitu, asalkansecara mental dan fisik kita sehat dan yangmemainkan para pemain aslinya, saya tidak ingin mengatakan tiap orang berusia 60 an bisa memainkan musik Led Zeppelin. Ada hal-hal yang jauh lebih kompleks dari bisa anda lihat dan katakan. Ada sesuatu yang tersembunyi bagaimana musik tersebut bisa teramu menjadi satu.

Tentu. Kami juga tidak pernah berpikiran bahwa URIAH HEEP, pada usia 60 an, bisa dengan mudah memainkan musik Led Zeppelin

Tidak. Saya juga tidak akan mampu memainkan lagu Uriah Heep. Namun musik Led Zeppelin saya kira sudah mendarah daging pada diri saya. Sudah menjadi bagian diri saya. I just go into sort of….sebagai contoh sebuah lagu yang kami mainkan saat kami berlatih adalah “The Rover”. Now, kami belum pernah memainkan “The Rovers” sebelumnya, dalam versi lengkap.

Saya selalu berpendapat “The Rover” sebagai gambaran paling bagus tentang Led Zeppelin pada puncak kepercayaan dirinya

That sort of swagger ? I’s got real swagger about it. An intenational swagger.

Well, saya berpikir lebih kepada dakta bahwa anda telah menulis lagu yang hebat, namun tiba-tiba anda memutuskan untuk tidak memasukan lagu tersebut dalam album (House Of The Holly), padahal seharusnya kan masuk dalam album tersebut.

Well, ya. Tapi semua ada tempat dan waktunya. Tempat untuk the Rover ada pada album “Phsycal Gravity”, yang nampaknya memang cocok

Apakah akan ada cd dan dvd yang dikeluarkan dari konser O2 ?

Semuanya memang direkam, namun kita belum ada rencana untuk merilis dvdnya. Kami belum melihat hasil gambar maupun suaranya. Sangat mungkin suatu saat nanti akan keluar dvdnya, namun itu artinya harus kerja keras untuk memprosesnya.

Kami mengetahui liwat media-media yang terbit hari minggu bahwa Robert telah menolak tawaran tur dunia untuk Led Zeppelin. Mengapa ? Mungkinkah tur Led Zeppelin terjadi ?

Fokus kami adalah konser di O2. Itu Fokus saya. Mengenai Robert, ia punya proyek yang perngerjaannya bersamaan dengan Led Zeppelin (bersama Allison Krause), dan berlangsung sukses, yang saya duga membuatnya tak punya waktu untuk Led Zeppelin. Apa yang saya lakukan sekarang…apa yang saya lakukan sekarang….bahwa latihan bersama kami dan pertunjukan di O2 sangat memberi inspiras, OK ? Itu saja yang bisa saya katakan.

Ok, tapi apakah Led Zeppelin….

Itu saja jawab yang bisa saya berikan pada anda.

Tidak bisa melangkah lebih jauh dari itu ?

Saya tidak tahu apa yang telah dikatakan oleh John Paul Jones. Saya juga tidak tahu apa yang telah Robert katakan. Namun saya bisa merasakan, dan…..

Namun terdengarnya anda, anda sendiri, terbuka pada gagasan tur Led Zeppelin, dan mungkin sebuah album ? Saya tidak bermaksud anda membuat janji..

Well, jangan suruh saya membuat janji. Saya tahu bagaimana … Look, saya mulai pembicaraan ini dengan berkata bahwa ada suatu tekad untuk berhasil, ketika kami melakukan latihan. Dan semua memegang betul-betul komitmen tersebut. Sekarang jika anda bicara tentang tur..tentang album baru—hanya satu syarat yang membuat semua itu bisa terjadi. Syarat itu adalah komitmen. Itu yang mebuat konser O2 berhasil.

Namun apakah di kantor Led Zeppelin,telepon terus berbunyi ? Tawaran dari para promotor dari Amerika untuk melakukan tur, tawaran dari para pengusaha rekaman……..

Oh. Ya, saya yakin itu. Saya yakin itu.

Apakah hal seperti itu mengganggu anda ?

Mengapa saya harus merasa terganggu dengan hal itu ? Tidak, saya tidak merasa terganggu.

Dalam hal…..

Saya Tidak merasa terganggu dengan itu.Menurut pandangan saya, begitu banyak orang yang mengenal saya, baik mereka yang hadir di konser O2 maupun yang tidak dan berkata, apakah anda akan melakukan tur ? “Well, pada masa-masa ini tidak. Pada masa-masa ini belum ada rencana..”

Paling tidak, apakah hal ini memberi dorongan dan memberi tekad baru ? Sebagai contoh ketika di wawancara pada tahun 2004anda berkata –anda sedang menggarap sesuatu yang baru dan radikal, tak terduga— Sudah sampai tahap mana hal yang sedang anda garap itu sekarang ?

Saya akan katakan pada anda secara musik apa yang sedang saya garap. Mereka adalah semacam kendaraan dan kerangka kerja yang dapat diterapkan—karena saya masih ingat satu hal yang saya katakan dalam wawancara tersebut bahwa – riff yang bagus adalah riff yang bagus—namun ini adalah kendaraan-kendaraan yang tak dapat diterapkan dalam beragam situasi. Saya mungkin punya sesuatu yang dapat saya rekam secara mudah dengan orkestra drum etnik atau band rock. Anda mengerti maksud saya ? Atau bisa juga dimainkan secara akustik. Inilah aplikasinya. Namun saya siap, saya siap mempersembahkan materi yangtelah saya peroleh.

Saya tidak tahu apakah anda mengingat,Namun sudah sekitar 10 tahun anda tidak merilis album (lagu) baru. Terakhir adalah adalah saat anda merilis album Page & PlantWalking Into Clarkscadale….

Itu tidak masalah. Mengapa harus jadi masalah ?

Ada suatu masa ketika….

Tidak, saya mengerjakan hal-hal lain setelah itu…..ada suatu masa yang..apa ?

Keika anda tak berdaya untuk memenuhi harapan publik untuk mendengar karya terbaru dari anda. Untuk didengarkan, dinikmati dan dikagumi.

Apa, maksud anda, dalam format band ? Oh, ya, ya, itu benar. Tapi saya belum pernah punya band untuk melakukan tur. No, tapi saya sudah mengerjakan beberapa projek.

Namun bukan album baru. Sejak akhir tahun 1998, Anda menggarap sebuah live album bersama The Black Crows, namun itu sesungguhnya tidak bisa disebut album baru.

Ya, tapi saya baru saja selesai mengerjakan sebuah proyek dokumenter, dan sayamembuat beberapa karya baru dalam proyek tersebut. Saya memiliki cukup karya baru untuk dijadikan semacam…semacam tantalising dan…..yes, untuk menerapkan kembali to that, shall we say.

Jika Anda melihat kebelakang, pada cara Anda membangun Led Zeppelin pada tahun 1968, apakah semuanya berjalan dengan mudah ? Maksud saya anda menghubungi Terry Reid, untuk menjadikan dia penyanyi Led Zeppelin, dia menolak, namun dia tahu siapa yang lebih tepat untuk mengisi tawaran yang anda berikan, dan ia juga tahu drumer terbaik di Inggris…

Pernahkah anda mendengar lagu River yang dibawakan oleh Terry Reid ? Belum? Karena jika belum, saya hanya berusaha untuk menunjukan apa alasan saya mempertimbangkan Terry Reid untuk bergabung. Selain itu ada sesuatu yang relatif yang berkaitan dengan hal ini secara keseluruhan. Anda berkata bahwa John Bonham adalah drummer terbaik di England ? Ya saya setuju. Namun reputasinya tidak terdengar di London. Namanya juga tidak terdengar di Midlands. Ia baru mulai bermain dengan Tim Rose—ia tentu saja tidak main dengan Robert—namun ketika saya dengar John Bonham bermain—well, memang tidak yang perlu diragukan lagi. Saya katakan , Anda bersimpati pada John Bomham. Semua orang bersimpati pada John Bonham.

Seandainya Terry Reid menerima tawaran untuk bergabung dengan Led Zeppelin, mungkin anda akan memiliki vocalis yang bagus—namun tidak memiliki kualitas luar biasa seperti yang diperlihatkan oleh Robert Plant pada album Led Zeppelin ke 1. Suara yang luar biasa, sexy, ada di antara suara perempuan dan laki-laki. Adakah penyanyi lain yang memiliki suara seperti itu pada saat itu ?

Tidak sampai tingkatan yang dimiliki oleh Robert. Ia menarik range vokalnya jauh di atas yang lain. Terry Reid dan Steve Mariot berkarakter vocal seperti ini, namun bermain di mid-range, sedang Robert mengolah lagi karakter vocal ini. Ia tidak bernyanyi seperti ketika pertama kali saya bertemu dengan dia di Midlands. Setahu saya ia belum pernah menyanyi seperti yang ia perlihatkan di album Led Zeppelin ke 1. Setahu saya John Paul Jones juga belum pernah bermain seperti di album Led Zeppelin ke 1 . Tak ada seorangpun yang bermain seperti itu. Demikian juga saya.

Benarkah lagu “Whole Lotta Love” ditulis di atas panggung pada suatu pertunjukan di Amerika. Ketika anda semua sedang membawakan lagu Gare mimm

Bukan, Bukan. Itu Salah besar. Lagu-lagu tersebut kita garap bersama saat kita sedang (berlatih) mematangkan beberapa lagu untuk dimasukan pada album ke dua Led Zeppelin. Saya memiliki sebuah riff, semua orang sedang berada di rumah saya, dan semuanya bermula dari sana. Tak pernah ditulis di atas panggung. Dari mana anda mendengar itu ?

Saya membaca dari sebuah buku.

(Kasar) Oh, bagus. Benar-benar sebuah informasi yang menyesatkan. Saya harap ini yang terakhir, ini paling tidak akurat.

Anda adalah salah seorangdari kelompokproduser di tahun 1968, menjadi kelompok produser yang membuka kesadaran orang untuk tidak hanya mendengarkan musik dari player mono, namun harus pindah ke player stereo dan headphone.

Ya saat itu saya baru melakukan tur bersama The Yardbirds di Amerika, dan sesuatu yang menarik perhatian saya adalah di sana ada dua jenis radio. Yang pertama adalah Radio dengan orientasi top 40, yang berada di jalur AM, yang memutar lagu-lagu dari rekamansingle, dan yang satunya lagi radio-radio yang berada di jalur FM, yang biasa memutar lagu satu album penuh. Saya pikir ini luar biasa, karena kita bisa mendengar performa sebuah band secara utuh. Ini membuka pikiran saya. Orang-orang yang mendengar siaran FM inilah yang akan menjadi target pendengar saya.

Namun aspek stereo? Begitu banyak sound effect yang luar biasa yang terdapat pada album Led Zeppelin ke 1 …

Saya tahu dengan pasti, banyak orang-orang yang mendengar lagu menggunakan head phones. Ini hal yang sangat penting pengaruhnya dalam memproduksi sebuah rekaman. You get a lot of movement going on (sambil melambaikan tangan diudara), Disamping senang mengerjakan ini, hal ini juga menghadirkan gambaran luar biasa ketika kita mendengarnya.

Bagaimana sound efek yang unik bisa terdengar pada akhir lagu “When The Leaves Breaks” bisa didapat ? Saya selalu membayangkan anda duduk di sana dengan memegang Joystick…

Memang seperti itu, bukan ? Menarik dalam lagu “…leave breaks” anda mendengar backwards harmonica, backward echo, phasing, dan there’s flanging, dan pada ujungnya anda mendengar this super-dense sound, in layers, semua terhimpun disekitar bunyi drum, dan anda mendengar suara Robert konstan di tengah, dan semuanya mulai membentuk spiral dengan Robert sebagai pusatnya. It’s all done with panning.

Seberapa penting, Led Zeppelin harus jadi grup besar, dikenal secara international, sekaligus juga sebagai grup yang berkualitas ?

Pada awalnya datang pada masa Yardbirds and putting it altogether. Saya memiliki rencana jangka panjang, tidak hanya menjadikan sebuah band yang hanya menghasilkan sebuah single dan trite music. Musik yang dihasilkan harus musik yang bisa berumur panjang, dan harus punya kualitas. Etika semacam itu…..Well, Anda ingin keberhasilan bukan, yang artinya musik kita akan didengar. Dan selain itu teman-teman anda akan berkata, “Wow itu betul-betul grup band yang bagus.” Dan kami tidak, ini kuncinya, tidak perlu kuatir tentang single, atau pikiran wah nanti apa lagi ya setelah “Whole Lotta love” pada album ketiga ? Tidak kami tidak perlu itu ! Sebab jika ya, hal ini akan membatasi kita. Semuanya harus keluar, semuanya harus terbuka, pergi menuju cakrawala, seluas-luasnya, seluas-luasnya dan seluas-luasnya.

Pada lagu “In My Time Of Dying”, di albumPhysical Graffity, berakhir dengan sebuah joke dan ledakan tawa. Kelihatannya agaktidak cocok, setelah permainan musik yang demikian serius sepanjang 11 menit. Apakahreaksi humor seperti itu memang khas Led Zeppelin di studio ?

Kami hanya merasakan saat-saat yang menyenangkan. Look, kami memang punya kerangka lagu”In My Time Of Dying”. OK, namun itu hanya sebagai landasan kita untuk meluncur dan selanjutnya kami mengerjakan apa yang harus Led Zeppelin kerjakan. Kami ngejam. Kami punya sebuah bola. Kami mainkan.

Ketika anda sedang menggarap DVD The Song Remains The Same, apa yang terlintas dalam pikiran anda pada saat menyaksikanpenampilan Jimmy Page muda pada tahun 1973 ?

Well, it was sticky tape & glue, really. Rekaman live itu di ambil oleh para pembuat film dari konser kami, lebih dari tiga malam berturut-turut. Mereka mengambil gambar lebih dari itu, namun mereka mungkin ada masalah dalam soal komunikasi, karena anda akan melihatnya, jika anda melihat flm secara keseluruhan, banyak bagian gambar yang hilang dalam lagu-lagu yang dimainkan. Banyak lubang-lubang di sana Maka saya melakukan gerakan tiruan di Shepprton pada bagian yang saya mainkan di Madison Square Garden, namun meskipun saya punya perkiraan pada lagu yang saya mainkan malam demi malam, tiruan saya tidak bisa persis. Oleh karenanya film The Song Remains the Same yang dirilis pada tahun 70 an, sedikit ada ketidak sempurnaan..

Anda belum menjawab pertanyaan saya. Ketika anda menyaksikan pemain gitar yang sedang bermain di Madison Square Garden, di film The Song Remains The Same—dia adalah pimpinan sebuah band rock terhebat di dunia, ia berpakaian sangat keren, ia memainkan gitar dengan alat penggesek biola, ia memiliki potongan rambut terbaik sepanjang hidupnya…..

Ha ha ha ha ha !

….apakah anda melihat dia dan berpikir, wow—my God – ia begitu mengesankan..

(terdiam) Saya melihat dia dan berpikir, Ia telah sungguh-sungguh menjalaninya. Ia benar-benar menyatu dengan musiknya. Dan itu begitu indah. Saya bisa merasakan itu, dan saya bisa melihat ia memanfaatkan kesempatan-kesempatan. Dan saya jugabisa melihat ia membuat kesalahan-kesalahan.

Anda sering disebut sebagai kurator dari warisan-warisan Led Zeppelin, benarkah ?

Tidak benar, namun tentu saja saya berusaha untuk yakin bahwa karya-karya tersebut tidak yang mencemari. Saya sangat sadar akan itu.

Adakah perasaan yang berbeda bermain bersama Robert di O2 dengan bermain bersama Robert saat tur Page&Plant pada tahun 90 an ?

Tentu saja berbeda, karena penampilan di O2 jauh lebih baik. Dengan tidak bermaksud mengecilkan para pemusik pendukung pada tur Page & Plant, tentu jauh lebih baik memainkan sebuah karya dengan para pemain inti yang ikut mengalami proses pembuatan lagu tersebut. Itu adalah Robert, Itu adalah saya dan itu adalah John Paul Jones.

Mengapa akhirnya proyek Page & Plant tidak berlanjut ?

Lpnya sesungguhnya bagus. Tapi penjualannya terus menurun. Seharusnya ada suatu pemecahan, namun justru ini masalahnya, bukan ? Saya memiliki banyak materi, dan beberapa di antaranya benar-benar bagus, dan Robert sudah mendengarnya, namun ia punya rencana lain. Ia ingin menggarap solo album. Cukup fair.

Robert saat ini sedang menjalani tur dengan Alison Krauss, apakah ini mengganggu anda ? Atau mungkin anda ingin berkata, Hey Robert bagaimana ini dengan Led Zeppelin ?

No, karena ia telah membuat banyak penyimpangan dan hal itu adalah yang ingin ia lakukan. Ia boleh melakukan apa yang ia mau. Kami adalah orang-orang dewasa. Namun saya tahu apa yang inspirasional dan apa yang menantang, dan itulah yang secara pribadi, secara pribadi yang akan menjadi arah tujuan saya.

Seandainya akan ada album baru Led Zeppelin, akankah anda berharap menjadi produsernya, seperti album-album terdahulu ?

Tidak, saya tak berminat untuk itu.

Kami tahu andalah yang punya peran besar, sejak album Led Zeppelin ke 1 hingga yang terakhir, namun apakah anda bisa membayangkan karya-karya tersebut didengar orang 40 tahun kemudian ?

Susah mengatakan bahwa saya masih hidup 40 tahun lagi. Namun kenyataannya saya mendengar musik-musik tahun 30 an, musik rock ‘n’ roll awal tahun 50 an. Saya banyak mendengarkan musik dari masa-masa sebelum saya dilahirkan. Jadi ada kemungkinan Led Zeppelin pun akan diperlakukan demikian. Saya berpendapat bahwa lagu-lagu yang ada dalam album-album Led Zeppelin…saya enggan mengatakannya, merupaka tex book bagi para musisi.. Setiap orang yang memainkan instrument,dan merekyang punya daya apresiasi , akan banyak hal yang bisa mereka peroleh. Dan tidak hanya itu, bagi orang-orang yang tidak memainkan alat musik sama sekali…..akan banyak hal yang juga bisa mereka peroleh. Mereka bisa mendengarnya. Mereka bisa mengapresiasinya, mengapa atau bagaimana musik Led Zeppelin bisa demikian.

Selasa, 09 Desember 2014

Sejarah Led Zeppelin

Led Zeppelin



Led Zeppelin adalah kelompok musik rock dari Inggris yang dibentuk bulan September 1968, dan dibubarkan setelah pemain drumJohn Bonham meninggal. Led Zeppelin terdiri dari Jimmy PageRobert PlantJohn Paul Jones, dan John Bonham. Dengan musiknya yang menonjolkan suara gitar yang keras dan berat, Led Zeppelin dianggap sebagai salah satu band heavy metal yang pertama.[1][2] Sebagian besar lagu-lagu mereka merupakan interpretasi musik blues dan folk yang diberi nuansa rock, termasukrockabilly,[3] reggae,[4] soul[5]funkjazz,[6] musik klasikmusik Keltmusik Indiamusik Arabmusik popmusik Amerika Latin, danmusik country.
Led Zeppelin tidak pernah merilis singel dari lagu-lagunya yang menjadi populer di Britania Raya. Alasannya, mereka lebih menyukai konsep musik rock berorientasi album.[7]
Setelah 25 tahun bubar akibat meninggalnya John Bonham pada tahun 1980, Led Zeppelin tetap disanjung penggemar musik berkat pencapaian artistik, kesuksesan komersial, dan pengaruhnya yang luas di kalangan musisi rock. Hingga saat ini, album Led Zeppelin telah laku lebih dari 300 juta keping,[8] di antaranya, 109,5 juta keping laku di Amerika Serikat,[9] dan menjadi satu-satunya grup musik yang berhasil menempatkan semua albumnya ke dalam urutan Top 10 tangga album Billboard.[10] Selain itu, Led Zeppelin menempati urutan nomor satu dalam Daftar 100 Artis Hard Rock Terbesar (100 Greatest Artists of Hard Rock) versi VH1.[11]
Pada 10 Desember 2007, tiga orang anggota Led Zeppelin mengadakan konser reuni yang dipersembahkan untuk Ahmet Ertegündi The O2, London.
Biografi
Led Zeppelin adalah kelompok musik rock legendaris asal Inggris yang dibentuk pada September 1968. Personel Led Zeppelin saat itu terdiri dari Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones dan John Bonham.
Musik-musik Led Zeppelin menonjolkan suara gitar yang keras dan berat dan dianggap sebagai salah satu band heavy metal pertama. Band ini juga tercatat tidak pernah merilis lagu single, kecuali dalam bentuk album.
Led Zeppelin kemudian bubar setelah pemain drum John Bonham meninggal pada 1980. Namun musik-musiknya melegenda dan tetap dicintai pengemarnya. Bahkan album Led Zeppelin telah terjual lebih dari 300 juta keping.
Sementara itu, tiga orang anggota Led Zeppelin, masing-masing Robert Plant (vokal), Jimmy Page (gitar) dan John Paul Jones (bass) mengadakan konser reuni di The O2, London pada 10 Desember 2007. Dalam konser yang ditonton 20.000 penonton itu, juga mengajak putra John Bonham, Jason.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Led_Zeppelin

The Best of Led Zeppelin



Stairway To Heaven



Ini adalah sebuah kisah, tentang bagaimana dua orang musisi Jimmy dan Bastian menyalurkan kegemarannya bermain musik. Namun mereka terhalang oleh jarak yang begitu jauh, seorang ada di Amerika dan seorang lagi tinggal di benua biru Eropa, tepatnya di negeri Belanda. Sekian lama mereka saling mengenal tak pernah sekalipun keduanya bertatap muka secara langsung. Kesibukan masing-masing dan juga jarak menjadi faktor penghambat mereka untuk saling bertemu. Namun beruntung, dua orang berbakat ini hidup di era teknologi yang begitu canggih. Di mana jarak bukan lagi menjadi sebuah tembok penghalang. Akhirnya komputer dan dunia maya menjadi dua hal yang menunjang cita-cita mereka…. “Berkolaborasi”.
Lagu yang mereka bawakan pun bukan lagu yang main-main. Salah satu lagu paling populer di dunia dengan tingkat kesulitan yang mugkin cukup tinggi. Lagu itu adalah StairWay To Heaven yang diciptakan dan dipopulerkan oleh group metal kawakan, Led Zeppelin. Bagi penggemar lagu ini, mungkin akan sulit mendapatkan cover song-nya di Youtube secara utuh. Kebanyakan cover hanya menampilkan gitar cover-nya saja. Tapi hal itu sangat wajar, karena dalam lagu ini,  solo gitar dari Jimmy Page (gitaris Led Zeppelin) sangat dominan. Bahkan tak sedikit orang pada masa Led Zeppelin jaya tertarik untuk belajar gitar karena lagu ini.
Dan akhirnya Jimmy dan Bastiaan pun memulai proyek mereka. Jimmy menggarap Piano, Vocal, fute, drum, dan gitar-nya. Sedang Bastiaan mengambil jatah lead guitar, bass, dan akustik. Setelah masing-masing berhasil menyelesaikan tugasnya mereka segera me-mix hasil pekerjaannya itu.